Membangun Ekosistem Digital Indonesia melalui Pengembangan “Smart City”

Era pemerintahan Kabinet Kerja menggagas Nawacita yang berisi sembilan program unggulan untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Dalam hal pembangunan perkotaan, maka melalui Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) 2015-2045, pemerintah menetapkan visi pembangunan kota yang berkelanjutan dan berdaya saing. Solusi smart city diyakini bisa membantu perwujudan KSPPN itu.

Dari persepsi teknologi, smart city mengacu pada pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta internet. Hal ini senada dengan penjelasan Director & Chief Wholesale and Enterprise Officer Indosat Ooredoo Herfini Haryono.

Menurut Herfini, teknologi memang sudah selayaknya digunakan tidak hanya sebatas untuk memuaskan kebutuhan hiburan secara personal. Teknologi sudah harus dikembangkan dalam cakupan wilayah penggunaan yang lebih luas, yaitu masyarakat. Herfini memberi contoh, sebuah teknologi bisa membantu mengurai kemacetan, membuat pemerintah cepat tanggap terhadap keluhan masyarakat, atau mencegah banjir.

“Untuk bisa mewujudkan smart city, penerapan teknologinya bukan lagi melulu soal pasang sensor saja. Dibutuhkan penerapan internet of things (IoT). Penerapan itu akan membantu pengelola kota dalam hal mendapatkan informasi dan masukan yang kemudian bisa langsung dijadikan sebuah keputusan. Selain itu, IoT akan membantu pemerintah kota dalam hal pengawasan dan kontrol terhadap seluk beluk perkotaan,” ujarnya.



Optimalisasi kota
Untuk mewujudkan smart city di Indonesia sebenarnya tidaklah sulit, jika dilihat dari karakter masyarakat Indonesia yang bisa dikatakan sebagai bangsa digital. Indonesia sebagai pengguna Facebook terbesar nomor 4 di dunia, pengguna terbesar Twitter nomor 1, dan penetrasi mobile phone di Indonesia pun kini sudah mencapai 90 persen.

Oleh karena itu, Indosat Ooredoo sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia merasa ada yang bisa dilakukan untuk mewujudkan solusi smart city. Herfini menjelaskan, Indosat Ooredoo tidak sekadar mendukung dari sisi konektivitas, tetapi secara menyeluruh. Hal ini karena Indosat Ooredoo memandang solusi smart city memang harus bisa memenuhi kebutuhan kota, yaitu pemerintah kota, warga kota, dan komunitas bisnis di dalamnya.

“Di situ ada hubungan antara kepentingan pemerintah dan dunia bisnis. Kami melihat ada empat unsur kebutuhan kota yang bisa dipenuhi dengan solusi smart city, yaitu governance, public service, revenue, dan efficiency,” ujarnya.

Herfini menerangkan lebih lanjut. Kebutuhan governance adalah pencapaian tata kelola pemerintahan yang transparan dan bersih. Caranya, misalnya dengan aplikasi e-governmment atau e-budgeting. Lalu, untuk kebutuhan public service, solusi smart city bisa membantu masyarakat mengakses layanan publik atau informasi lain terkait aktivitas kota, bisnis, dan sosial. Masyarakat pun bisa membantu memberikan masukan melalui laporan, keluhan, dan pujian yang bisa berpengaruh dalam pembangunan kota.

Solusi smart city juga sudah seharusnya mampu mendukung peningkatan pendapatan daerah. Misalnya, membuat aplikasi yang mampu membuat pajak dan retribusi bisa tercatat secara daring dan realtime. Oleh karena itu, semua pendapatan itu bisa langsung diterima pemerintah daerah dan secara langsung membantu peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Smart city juga bisa membantu operasional kota lebih efisien karena sudah terhubung dengan sistem teknologi. Misalnya, penggunaan listrik untuk penerangan jalan umum menjadi terukur.

Peran Indosat Ooredoo
Indosat Ooredoo sebagai perusahaan teknologi di Indonesia melihat kebutuhan solusi smart city tidak melulu hanya pengembangan konektivitas. Di situ ada kebutuhan soal standardisasi dan analisa data. Oleh karena itu, Indosat Ooredoo menghadirkan sebuah platform yang unik, hemat biaya, dan terukur melalui single window city dashboard (SWCD).

“Kami melihat SWCD ini tidak hanya bisa untuk skala kota, tetapi juga bisa membantu sebuah provinsi menjadi cyber province. Berdasarkan empat kebutuhan yang sudah dipetakan itu, SWCD memudahkan pengelolaan kota karena menggunakan solusi kluster. Dari sini, teknologi big data bekerja dan pemerintah bisa mengambil keputusan secara akurat dan tepat,” ujarnya.

Kalimantan Timur contohnya. Herfini menjelaskan, Kaltim siap menuju cyber province dengan fokus mengembangkan konektivitas, layanan, dan aplikasi. Herfini mengungkapkan, Indosat Ooredoo memiliki target hingga akhir tahun ini ada 5 sampai 10 kota yang bisa dikembangkan oleh Indosat Ooredoo.



Menariknya, SWCD dibangun dengan open source dan open standard. Jadi, setiap pemerintahan bisa mengembangkan sendiri aplikasi di atasnya berdasarkan kebutuhan. Sebab, menurut Herfini, setiap kota atau provinsi punya masalah yang berbeda. Tidak bisa disamakan satu sama lain.

“Kemampuan analisis data yang dibutuhkan tidak melulu melalui data digital, tetapi juga harus dipadukan dengan data manual. Fitur GIS kami bisa menampilkan seluruh data itu secara bersamaan sehingga bisa dianalisis lebih lanjut,” ujarnya.

Kebutuhan informasi juga diinginkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, Indosat Ooredoo juga memberikan aplikasi perpustakaan digital yang menjadi tahap awal untuk mewujudkan smart city dengan mendorong minat baca masyarakat kota.

“Aplikasi ini menggabungkan fitur membaca buku digital dan interaksi antarwarga melalui fitur media sosial yang dapat diatur berdasarkan masa keanggotaan, jumlah copy buku, waktu pinjam, dan jumlah yang dipinjam. Aplikasi ini layaknya perpustakaan. Jumlah buku terbatas dan jika lewat masa peminjaman, pengguna harus mengajukan peminjaman kembali. Sejauh ini, sudah ada tiga daerah yang meluncurkan perpustakaan digital bekerja sama dengan Indosat Ooredoo, yaitu Provinsi Kalimantan Timur, Kota Sukabumi (i-Sukabumi) dan Kota Pekanbaru (i-Pekan),” ujarnya.

Semua kebutuhan smart city pada akhirnya bisa membantu pencapaian city branding sesuai keunggulan masing-masing kota. Hal ini karena setiap kota memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing yang perlu diperkuat dengan memanfaatkan teknologi guna mendatangkan keuntungan ekonomi dan pembangunan. Namun, solusi ini bukan membuat setiap pemerintah daerah bersaing untuk menjadi yang terkuat, tetapi justru bisa saling berintegrasi untuk meningkatkan perekonomian nasional.

“Di tengah pengembangan solusi smart city itu, ada harapan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Indosat Ooredoo siap menjadi mitra strategis pemerintah daerah untuk menerapkan smart city,” pungkasnya. [VTO]Copyright Kompas.